Mengilhami IDE: Innovation, Design & Entrepreneurship

Waspadai Pelemahan Rupiah: Inflasi, Intervensi, Investasi

25

www.ideapreneur.id – Baru-baru ini berita Pelemahan Rupiah membuat kalut beberapa kalangan, mulai dari industri hingga pemerintah yang sedang menyusun APBN. Pelemahan rupiah yang terjadi saat ini sangat menguntungkan sektor yang punya penerimaan dolar dan berbasis ekspor. Namun, hal ini tidak berlaku untuk industri manufaktur.Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS melemah tiga poin menjadi Rp 9.643 per dollar AS dibandingkan dengan hari sebelumnya, Rp 9.640.

Inflasi

Ekonom Bank OCBC, Gundy Cahyadi melihat rupiah tetap akan melemah terhadap dolar AS. Hal ini perlu diwaspadai agar tak berjalan terlalu lama. “Kelemahan yang terlalu berlebih bisa berakibat cukup bahaya, apalagi kalau menyangkut prospek inflasi jangka medium dan juga prospek investasi dalam negeri,” ujar Gundy dalam keterangan persnya kemarin.

Adapun pelemahan rupiah pada pekan kedua Januari, dijelaskan Gundy terjadi akibat pasar panik setelah berkembangnya komentar negatif terkait prospek neraca pembayaran Indonesia.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo memperkirakan inflasi bisa mendekati 1 persen pada Januari. Salah satu dorongan terbesar berasal dari naiknya harga kebutuhan pokok akibat terganggunya distribusi terkait banjir.

Transaksi di “Money Changer” Meningkat

“Jika rupiah melemah, khususnya terhadap dollar AS, jumlah nasabah ambil untung yang menjual dollar AS bisa meningkat hingga setengah kali lipat. Bahkan, bisa meningkat lebih banyak jika rupiah melorot signifikan terhadap dollar AS,” terang teller PT Ayu Masagung Money Changer, Wulan, di Jakarta, Sabtu (26/1/2013).

Wulan menuturkan, ketika rupiah stabil, umumnya transaksi yang dilakukan para nasabah berimbang antara menjual atau membeli suatu mata uang. “Ada yang membeli rupiah untuk investasi, bisnis, operasi perusahaan atau kantor, dan lainnya. Adapun yang menjual rupiah untuk kunjungan atau perjalanan ke luar negeri,” katanya.

Berdasarkan pantauan Kompas, beberapa nasabah menjual rupiah untuk membeli sejumlah mata uang asing, seperti ringgit Malaysia, dollar Singapura, dollar Brunei, dan real Arab Saudi.

Intervensi

Menurut Hartadi, Deputi Gubernur Bank Indonesia, untuk menyeimbangkan supply dan demand valuta asing di pasar, BI harus berani intervensi. “Kami lihat sekarang jumlahnya berapa, kalau keperluan impor migasnya besar, kami akan masuk lebih banyak ke sana. Jadi tidak ada instrumen yang berubah, hanya jumlah dan timing. Timing and quantity yang tepat,” ucapnya.

Ekonom dari Samuel Sekuritas Indonesia, Lana Soelistianingsih, menilai Bank Indonesia harus memberikan intervensi yang signifikan untuk mengatasi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akhir-akhir ini.

“Level sekarang sebetulnya lebih banyak karena tekanan psikologis. Penjagaan dari Bank Indonesia menentukan level nilai tukar rupiah. Tanpa pengawalan kuat dari Bank Indonesia, nilai tukar rupiah secara teknis melemah,” kata Lana Soelistianingsih saat dihubungi di Jakarta, Selasa.

Menurut dia, level rupiah yang menguat tajam secara psikologis membuat orang kembali tenang karena rupiah rawan terhadap tekanan psikologis,” kata dia.

Investasi

Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai, investasi pada 2013 bisa bertumbuh baik dan signifikan. Selain karena status Indonesia sebagai negara berkembang, juga karena asumsi pelemahan nilai tukar rupiah.

Kepala BKPM, Chatib Basri menyatakan dengan pelemahan rupiah saat ini, maka Indonesia menjadi tempat berbisnis yang menarik bagi investor dan pelaku pasar asing.

Sementara itu, minat investasi masyarakat dalam bentuk emas atau logam mulia terus meningkat seiring dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang cenderung bergerak melemah.

“Masyarakat lambat laun sudah mulai sadar berinvestasi dalam bentuk emas, hal itu dikarenakan emas dapat dijadikan “hedging” (lindung nilai) di tengah kondisi ekonomi yang cenderung bergerak melambat. Jika diperhatikan, dalam jangka panjang harga emas selalu naik. Hal itu dikarenakan emas di dunia memiliki stok terbatas, sedangkan permintaan akan emas berangsur-angsur naik misalnya untuk perhiasan, atau investasi seiring dengan terus bertambahnya jumlah populasi manusia.

[divider style="dotted"] Note: Artikel ini proyek rintisan SEO (Search Engine Optimation), anda datang ke laman ini berkat SEO  silahkan baca lengkap pada sumber yang diberikan.

Kutipan dari Berita Yahoo, AnalisaDaily, InilahCom, AntaraNews, dan KompasCom

Salam sukses, Agus Ridwan Sopari

Leave A Reply